Manis,
bukankah kau masih berhutang dongeng dan nyanyian kepadaku?
Maka jika tiba waktunya nanti saat kepala ini dapat bersandar di dadamu lagi, bisikkanlah dikupingku ini dongeng yang sudah dilupakan orang, sayang
Bukankah kau juga heran kenapa dongeng selalu saja tentang kancil dan mentimun oang harus dicuri, atau masih ingatkah olehmu teoriku tentang kancil yang sebenarnya hanya korban dari fitnah pak tani? Haha aku rindu saat saat kita bebas bercerita apa saja
Saat itu tiba, dongengkanlah kepadaku kisah Calon Arang (calwanarang), kisah yang diceritakan oleh dua penulis kesayangan kita dalam bukunya, ah tapi aku mau mendengarkan kisahnya versi Pram saja sayang. Ceritakanlah tentang Calwanarang yang mendendam pada orang lain karena kesalahannya sendiri atas nasib anaknya, Ratna Manjali. Tentang Mpu Baradah dan anaknya Dewi Widowati yang keras hati. Ceritakan semua.
Aku bermimpi tertidur pulas dipelukmu, mendengar dongeng dan derap jantungmu itu. Menjadi bayimu lagi.
Showing posts with label feeling. Show all posts
Showing posts with label feeling. Show all posts
Monday, July 30, 2012
Sunday, June 17, 2012
Kita adalah sebuah lelucon yang dibuat tuhan
Ia merupakan teriakan gagap dari orang yang menyerah. Kalut
atas sebuah takdir yang diketik tergesa. Seolah akhir cerita sudah
ditentukan saat penolakan terjadi. Perasaan yang meleleh. Ragu yang menembus
hati dengan kekuatan yang lebih hebat dari doa para pendosa. Ada yang lepas.
Menaut pada sungsai cerita lampau. Seperti anak itik yang lepas dari pelukan.
Ia merupakan teriakan gagap dari orang yang menyerah.
***
Ia jalan terakhir para pecundang. Meraung dalam satu titik
temu yang dilibas kegetiran. Perihal ciuman yang tak memiliki arti apapun. Atau
sebuah senyum sederhana yang meremukkan. Tentang sepetak mata yang pernah
ditinggali. Di sana ada sebuah guguran daun. Kering lagi rapuh. Seakan jika ada
sebuah nafas yang terlampau keras terhembus. Dedaunan itu akan lumat menjadi
serpih pilu. Sehingga diam adalah bahasa lain dari 'maaf'. Ia jalan terakhir
para pecundang.
***
"Maka biarlah aku berlalu. Seperti gelap yang menelan
malam," katamu suatu malam.
"Kau tak pernah pergi," aku menahan laut yang
bergelombang dalam sudut mataku. "Kau hanya berpindah. Tapi akan selalu
ada, satu pojok kecil. Sebuah lubang yang menunggu kau isi. Entah kapan,"
***
"Kita adalah sebuah lelucon
yang dibuat tuhan. Tapi terlalu gagu untuk bisa dipahami sebagai ujian,"
Karena satu adalah bahasa yang punah. Bahkan sebelum kau
mencoba.
diambil dari anatomi kehilangan milik
tuan Arman Dhani Bustomi
Subscribe to:
Posts (Atom)